PASUKAN MARINIR 1


DETASEMEN INTAI AMFIBI 1 MARINIR


Profil Komandan DETASEMEN INTAI AMFIBI 1 MARINIR

LETKOL MARINIR ARIS WIBIATMOKO

KOMANDAN DETASEMEN INTAI AMFIBI 1 MARINIR

 

ALUMNI AAL ANGKATAN XLVIII TAHUN 2002

 


SEJARAH BATALYON INTAI AMFIBI 1 MARINIR

Batalyon Intai Amfibi Korps Marinir sebagai salah satu Satuan Pelaksana dibawah kendali langsung Pasmar, dituntut untuk mampu memelihara dan meningkatkan kemampuan Prajurit Intai Amfibi, dalam  rangka  melaksanakan tugas-tugas pengintaian amfibi, pengintaian darat dan operasi tempur darat maupun operasi khusus dalam rangka membantu satuan tempur Marinir dan Satuan tempur TNI.

Batalyon Intai Amfibi Korps Marinir adalah Satuan pelaksana yang setara dengan Komando Pelaksana Korps Marinir, di bawah Komando  Pasmar yang memiliki tugas pokok membina dan menyediakan  kekuatan,  serta  kemampuan  unsur-unsur  Intai  Amfibi,  guna  pelaksanaan  tugas-tugas  operasi khusus, dalam rangka pelaksanaan operasi pendaratan Amfibi, operasi oleh satuan TNI-AL dan atau tugas-tugas operasi hankam lainnya.


LAHIRNYA PASUKAN INTAI AMFIBI

Pada tanggal 13 Maret 1961, berdasarkan Surat Keputusan Komandan KKO AL Nomor 47/KP/KKO/1961 tanggal 13 Maret 1961 tentang pembentukan Kompi Intai Para Amfibi, atau disingkat KIPAM.

Dalam perjalanannya, nama satuan inipun mengalami beberapa kali pergantian. Pada tahun 1970, Surat Keputusan KASAL, bernomor 540141/1970, tanggal 25 Mei 1970 mengubah KIPAMKO menjadi YON IPAM atau Batalyon Intai Para Amfibi di bawah PASKOARMA/Pasukan Komando Armada.

Nama ini juga tidak berlangsung lama karena pada tanggal 17 November 1971 berubah lagi menjadi SAT IPAM atau Kesatuan Intai Para Amfibi. Status batalyon kembali menjadi satuan seperti di awal pembentukannya. Kali ini nama komando dibelakang sudah tidak pernah dipakai lagi. Kemudian memasuki era Operasi Seroja, ditemukan beberapa dokumen tulis dan foto, kata “Para” dihilangkan dan berganti singkatan SAT INTAM atau Satuan Intai Amfibi, penamaan ini berlangsung dari tahun 1975 sampai dengan 1977. Di beberapa dokumen resmi TNI AL termasuk laporan untuk Operasi Seroja.

Selanjutnya SAT IPAM ini menjadi Marinir Intai Amfibi atau MARTAIFIB yang berlangsung mulai tahun 1977 sampai dengan 1982 yang markasnya berkedudukan di Surabaya. Penyebutan Satuan dikembalikan menjadi Batalyon pada tahun 1982 sampai dengan 2001, dengan nama YONTAIFIB MAR atau Batalyon Intai Amfibi Marinir dan dibawah Resimen Bantuan Tempur/Menbanpur 1 Korps Marinir.

Sekitar tahun 1985, Kompi C YONTAIFIB MAR dipindahkan organisasi dan lokasi ke Jakarta di bawah kendali Resimen Bantuan Tempur 2 Jakarta. Sedangkan Kompi A dan B, tetap berada di  Karang Pilang Surabaya.

Pada Maret 2001 Batalyon Intai Amfibi/Yontaifib berada dibawah kendali Pasukan Marinir 1/ Pasmar 1 berdasarkan Surat Keputusan Kasal Nomor SKEP/08/ III/2001 dengan tanggal 12 Maret 2001 tentang perubahan organisasi. Akhirnya, November 2003 melalui Surat Keputusan Kasal Nomor SKEP/1857/XI/2003 YONTAIFIB 1 MAR diberi status sebagai Pasukan Khusus TNI AL (Pasusla).

Penamaan Batalyon Intai Amfibi Marinir (YONTAIFIBMAR) adalah nama resmi yang digunakan untuk Pasukan khusus TNI AL sampai saat ini. Penggunaan singkatan kata Taifib mulai sering digunakan menggantikan sebutan IPAM. Di dalam surat pengajuan ini juga nama Yontaifib diusulkan untuk dikembalikan menjadi nama Yon IPAM. Surat yang bernomor R/03/II/1984, bertanggal 1 Februari 1984 dan diajukan kepada Komandan Resimen Bantuan Tempur Marinir ini mengusulkan penggantian penyebutan dikembalikan ke IPAM.

Surat Telegram Komandan Pasukan Marinir/PASMAR II Marinir, Nomor ST/201/2008 yang memuat Surat Telegram Komandan Korps Marinir/ Dankormar Nomor R/458/VI/2007 tanggal 25 Juni 2007 tentang perubahan nama Satuan Intai Amfibi Marinir. Surat Telegram Komandan Pasukan Marinir/ PASMAR II Marinir STR/552/2007 tanggal 26 Juli 2007 yang memuat Surat Telegram Komandan Korps Marinir/ Dankormar  Nomor ST/744/ 2007 tanggal 20 Juli 2007, mengubah Kejuruan Intai Amfibi atau IAM menjadi Intai Para Amfibi atau IPAM.

Setahun kemudian, mengacu pada Surat Telegram Komandan Pasmar II Marinir, Nomor ST/201/2008 yang memuat Surat Telegram Dankormar Nomor ST/246/2008 tanggal 11 Maret 2008 Yon Ipam 2 Marinir menjadi Yontaifib 2 Marinir yang berkedudukan di Cilandak Jakarta Selatan.

Seiring dengan perkembangan Korps Marinir, berdasarkan Peraturan Kasal Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pembentukan Pasukan Marinir 3 dan Peraturan Kasal Nomor 18 tentang Perubahan Nama Komando Armada RI Kawasan dan Pasukan Marinir. Peraturan Kasal Nomor 23 Tahun 2018 tanggal 30 Juli 2018 tentang perubahan nama satuan di jajaran Pasukan Marinir maka Batalyon Intai Amfibi Marinir berkembang menjadi 3 Batalyon di bawah Pasmar Yaitu  Batalyon Taifib 1 Marinir di bawah Pasmar 1 yang berada di Jakarta, kemudian Batalyon Taifib 2 Marinir di bawah Pasmar 2 berkedudukan di Surabaya dan Batalyon Taifib 3 Marinir di bawah Pasmar 3 dan berkedudukan di Sorong, Papua.


THE FOUNDING FATHERS

Yang pertama adalah Letnan KKO Oentoeng Soeratman, Lulusan Akademi Angkatan tahun 1954 ini adalah penyandang brevet terjun pertama di KKO-AL bersama Letnan KKO Engelbert Willem Antonius (EWA) Pangalila. Oentoeng Soeratman adalah perwira yang diperbantukan di Pusat Pendidikan KKO-AL.

Kedua, Letnan KKO P. Sumardi. Bersamaan dengan dibukanya sekolah Frogman pada tahun 1958, Letnan KKO P. Sumardi dikirim ke Amerika Serikat untuk mendalami Recon atau Pengintaian, merujuk pada tulisan Serma Mar. Totok Sumantri di Majalah Marinir Nomor 115, Februari 2007. Sepulang dari Amerika Serikat Letnan KKO P. Sumardi pun bertugas sebagai sebagai Perwira di instansi pendidikan KKO-AL LPPAAKO (Lembaga Pusat Pendidikan Amfibi dan Anti-Amfibi Komando) atau yang sekarang menjadi Pusat Pelatihan Marinir atau Puslatmar. Sumardi inilah yang mengajarkan Ilmu Amphibious Recconaisance/ Recon atau Ilmu Pengintaian di SIPAMKO. Sumardi menyusun pendidikan Recon dibantu oleh Letnan KKO Untung Soeratman dan 3 pelatih lainnya. Nama keempatnya masih bisa diingat hanya kepangkatan mereka saat itu masih terus dilacak. Diantara keempat pelatih tersebut adalah S. Bakri, Toha Husein dan Asir. Mereka inilah yang menjadi pelatih di SIPAMKO untuk pertama kalinya.

Ketiga, Komandan pertama KIPAM, Letnan KKO Moelranto Wiryohuboyo juga disebut sebagai founding father kesatuan elite TNI AL ini. Semasa berpangkat LMD KKO, Moelranto bersama-sama dengan KPT KKO S. Harahap dikirim ke Inggris untuk tugas belajar di Jungle Survival School, British Morisson Center selama 10 bulan. Setelah kembali ke Indonesia menurut dokumen yang ditulis oleh SRD S. Soesilo, IPAM 1, Moelranto mendapatkan perintah dari Panglima KKO, Jenderal KKO Hartono untuk membentuk Kesatuan Intai Amfibi. Calon pertamanya berasal dari 33 siswa SIPAMKO I yang berasal dari lulusan saringan dari 105 anggota Batalyon Landing Team ditambah dengan 40 siswa SIPAMKO II. Mereka inilah yang kemudian pada Operasi Jayawijaya TRIKORA ditempatkan di Kapal Komando RI Multatuli.

SIPAMKO atau sering disingkat SIPAM diselenggarakan sampai dengan SIPAM IX dan kemudian pada penyelenggaraan Pendidikan Intai Amfibi berikutnya namanya diubah menjadi Pendidikan Intai Amfibi atau Diktaifib dan melanjutkan penomoran sebelumnya, Diktaifib X. Diktaifib adalah istilah yang terus digunakan sampai dengan sekarang. Angkatan terakhir yang telah lulus pada tahun 2022 adalah DIKTAIFIB Angkatan XLVIII.

SIPAMKO I mulai mengikuti rangkaian pendidikan pertamanya. Amphibious Recon atau Intai Amfibi berlokasi di Pantai Gadon (di sekitar makam Sunan Drajat), Komando Hutan berlokasi di Pantai Ngliyep Malang. Frogman atau Selam Tempur berlokasi di Pantai Pasir Putih Situbondo. Lokasi pendidikan di atas tetap digunakan sebagai tempat pendidikan sampai dengan SIPAMKO III. Menurut tulisan Serma Mar. Totok Soemantri, yang mewawancarai senior IPAM, Intje Mahmud Syah, SIPAMKO I sampai dengan III, sekolah INTAI PARA AMFIBI, namanya belum SIPAMKO tapi Kursus IPAM atau SUSIPAM. Siswanya pun diberi nama PIPAM, Pendidikan Intai Para Amfibi.

SIPAMKO IV, barulah dipakai nama SIPAMKO dengan lokasi pendidikan yang dipindah ke Karangtekok, Asembagus, Situbondo dan Pantai Selogiri, Banyuwangi. SIPAMKO IV mulai digunakan untuk mengganti SUSIPAM I samapai dengan III ketika dijabat oleh KPT KKO G. Soegito.


PENUGASAN INTAI AMFIBI MARINIR

1. Penugasan Operasi Dalam Negeri
Operasi Trikora, Operasi Tumpas, Operasi Dwikora, Survey Laut di Timor-Timur, Operasi penumpasan G30S/PKI, Pengambilan Jenazah 7 Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya, Operasi Sadar, Operasi Sarutomo I, II, dan III, Operasi Baruna, Operasi Seroja,  Penugasan Eskader di Kepulauan Natuna dan Indonesia Timur, Satgas Aru Jaya di Timor Timur, Satgas KTT 10 Non Blok di Jakarta, Satgas Rencong Sakti di Nanggroe Aceh Darusalam, Satgas Rajawali I s.d. IV di Timor Timur & Nanggroe Aceh Darusalam, Satgas Ambon, Satgas Yon Gab I dan II Ambon, Satgas SGI Ambon, Satgas Sus Aceh, Satgas Garuda Aceh, Satgas Tinombala Poso 2016 dan 2017, Pam Instalasi Vital dan Pam VVIP/VIP, Satgas SGI, Satgas Arung Pari, Satgas Pam Pulau Terluar dan  beberapa penugasan Operasi Bhakti Kemanusiaan dan SAR yang tergabung dalam Basarnas antara lain SAR Tsunami Aceh 2004, SAR Banjir Besar di Jakarta 2006, SAR Banjir Danau Situ Gintung di Pamulang Banten 2009, SAR korban gempa bumi di Cianjur dan Garut 2009, SAR korban meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta 2010, SAR kapal tenggelam KM. Windu Karsa di Kolaka Sulawesi Tenggara 2011, SAR pesawat komersil Sukhoi Super Jet 100 di Gunung Salak Bogor 2011, SAR kapal tenggelam KM Bahuga Jaya di Selat Sunda 2012, Ekspedisi Khatulistiwa 2012, Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013, SAR bencana tanah longsor di Banjarnegara, SAR Pesawat Air Asia QZ 8501 di Pangkalan Bun Kalimantan (anggota Yontaifib 1 Mar menemukan black box pesawat a.n. Serma Mar Boflen Sirait dan Serka Mar Oo Sudarna), Ekspedisi NKRI Koridor Bali dan NTT, Satgas Raksaka Baruna-15 TA 2015, SAR KM Sinar Bangun di Danau Toba TA 2018, SAR Pesawat Lion Air GT 610 di Tanjung Karawang 2018 (anggota Yontaifib 1 Mar menemukan black box pesawat a.n. Sertu Mar Hendra Syahputra dan Kopda Mar Noor Ali) dan SAR Sriwijaya Air SJ-182 di Kepulauan Seribu.

2. Penugasan Operasi Luar Negeri
Kontingen Satgas Garuda II di Kongo, Satgas Garuda IV, V dan VII/2 di Vietnam, Satgas Garuda VIII di Timur Tengah, Satgas Garuda XII-B dan D di Kamboja, Satgas Garuda XIII-A sampai dengan XXIII-K/UNIFIL di Lebanon, Satgas Garuda XXVI-A sampai dengan XXVI-J/UNIFIL Lebanon, Operasi Cakra (KTT ASEAN) di Manila, Satgas Milobs Perbatasan Kamboja dan Thailand, Satgas Merah Putih Pembebasan Sandera Perompak di Somalia, Satgas Milobs Philipina, Satgas Garuda di Sudan, Satgas Minusca di Afrika, Satgas Pam KBRI di Afganistan dan Eskader Luar Negeri.
Dalam penugasannya, Batalyon Intai Amfibi Marinir telah menerima beberapa penghargaan Satya Lencana serta kehilangan anggota terbaik yang gugur sebagai kusuma bangsa dalam Operasi Trikora/Dwikora 12 orang, Operasi Seroja 10 orang, Satgas Rencong Sakti Aceh 3 orang, tewas dalam latihan dan tugas 12 orang.               
Dari berbagai penugasan yang telah dilaksanakan, Prajurit Intai Amfibi telah membuktikan  peranannya dalam  mengukir lembaran  sejarah Korps Marinir, TNI AL, TNI, Bangsa dan Negara serta dapat disimpulkan bahwa  tugas yang diberikan kepada Prajurit Intai Amfibi adalah tugas-tugas khusus yang hanya dapat dilaksanakan oleh Pasukan Khusus yang terpilih, terlatih dan mempunyai kemampuan individu, serta kerjasama tim yang baik.  


DARI PENGANGKAT JENAZAH JENDERAL, SAMPAI MENJADI AJUDAN JENDERAL.

Sejarah KIPAM dalam peristiwa G.30.S/PKI sudah sangat sering dibahas. Bila kita pergi ke Museum Pengkhiantan PKI di Lubang Buaya akan mudah ditemukan foto-foto dan para personel IPAM yang menjadi tim evakuasi jenazah para Jenderal. Untuk menyegarkan ingatan kita akan patrikan nama-nama personel IPAM yang sudah mengangkat tinggi keharuman nama KIPAM diantaranya.
1. SRS KKO Saparimin
2. SRD KKO Ventje Kandou
3. KOP KKO Hartono
4. KOP KKO Samuri
5. KOP KKO A. Sudardjo
6. KOP KKO Soegimin
7. PRAKO I KKO Imam Subekti

Mereka dipimpin oleh KPT KKO Winanto dan LTN KKO Mispan Sutarto. Ada dua personel KKO-AL  lainnya yang menyertai dan bukan dari KIPAM yaitu  KPT KKO Sumarno, dr. Gigi dan PRAKO II KKO Baharudin, ditambah dengan LTN Kesehatan dr. Kh Tjioe Liang.

Ventje Kandou yang merupakan Frogmen Commandos pertama ini kemudian menunjukkan foto-foto yang dibawanya. Sambil tersenyum dia menunjukkan dan menyebutkan nama-nama rekannya satu persatu dalam foto. Kandou melanjutkan bercerita, “Dia, (sambil menunjuk salah seorang dalam foto) Letnan Mispan, setelah peristiwa ini yang menggantikan posisi Pierre Tendean menjadi ajudan Jenderal Nasution”.

LTN KKO Mispan Sutarto sendiri adalah personel IPAM yang pertama ditemui oleh Kapten Sukendar dari Kostrad di Markas Besar KKO-AL untuk dimintai bantuannya mengangkat jenazah para jenderal. Kandou juga mengatakan kalau dirinya yang diperintah LTN KKO Mispan Sutarto untuk mengumpulkan rekan-rekannya dan akhirnya terkumpulah 6 orang rekan IPAM lainnya untuk berangkat ke Kampung Lubang Buaya.

Sementara Komandan KIPAM ke 2, KPT KKO Winanto secara kebetulan sedang berada di Mess Jalan HOS Cokroaminoto 103 Jakarta. Winanto saat itu sedang cuti dari garis depan di Wilayah Operasi R.R. (saat itu Indonesia sedang terlibat konfrontasi DWIKORA).

KPT KKO Winanto ini digambarkan rekannya sebagai sosok yang sangat pintar namun easy going dan low profile. Sikap easy going-nya inilah yang menentukan ketika dihentikan dan dilarang masuk oleh seorang Pembantu Letnan Dua Angkatan Darat yang bersama RPKAD menjaga sumur di Kampung Lubang Buaya.


KOMANDAN BATALYON INTAI AMFIBI 1 MARINIR DARI MASA KE MASA.

1.            Letkol Marinir Nur Alamsyah NRP 9645/P (periode 2007 s.d. 2008)
2.            Letkol Marinir Supriyono NRP 10443/P (periode 2008 s.d. 2010)
3.            Letkol Marinir Edy Cahyanto NRP 12723/P (periode 2010 s.d. 2011)
4.            Letkol Ferdy Erwin Takaendengan NRP 12014/P (periode 2011 s.d. 2011)
5.            Letkol Marinir Nanang Saefulloh NRP 12721/P (periode 2011 s.d. 2012)
6.            Letkol Marinir Ena Sulaksana NRP 13384/P (periode 2012 s.d. 2013)
7.            Letkol Marinir Samson Sitohang NRP 13924/P (periode 2013 s.d. 2015)
8.            Letkol Marinir Carles Arianto Lumban Gaol NRP 14445/P (periode 2015 s.d. 2016)
9.            Letkol Marinir Rino Rianto NRP 14460/P (periode 2016 s.d. 2017)
10.          Letkol Marinir Mahfud Dwi Hafinanto NRP 16114/P (periode 2017 s.d. 2018)
11.          Letkol Marinir Tantahara NRP 16644/P (periode 2018 s.d. 2020)
12.          Letkol Marinir Mohammad Abdilah NRP 16131/P (periode 2020 s.d. 2022)
13.          Letkol Marinir Jan Risa Romy Ulahayanan NRP 15543/P (periode 2022 s.d. 2023)
14.          Mayor Marinir Laili Nugroho, M.Tr.Opsla NRP 17774/P (periode 2023 s.d. 2024)
15.          Letkol  Marinir Dave Maureen Harold Lomboan M.Tr.Opsla NRP 18290/P (periode 2024 s.d. 2025)
16.       Kolenel Marinir Romanibun Butar Butar M.Tr. Hanla NRP16130/P (periode 2025 s.d 2026). 
17.      Letkol Marinir Aris Wibiatmoko Nrp 17755/P (periode 2026 s.d sekarang) 


Mayanetra Yamadhipati Ranamuka Sandhi Manduka
Yontaifib Marinir mempunyai tugas pokok membina dan menyediakan kekuatan serta membina kemampuan unsur-unsur amfibi maupun pengintaian darat serta tugas-tugas operasi khusus dalam rangka pelaksanaan operasi pendaratan amfibi, operasi oleh satuan tugas TNI AL atau tugas-tugas operasi lainnya.